Ponpes Al-Azhar

Jl. Soekarno-Hatta no. 39 Salatiga

Kontribusi Filsafat Islam Bagi Kemajuan Peradaban Barat


Pendahuluan

Kemajuan barat sejak era renaissance atau aufklarung sebenarnya adalah hasil dari dialektika antar peradaban manusia, dan juga hasil dari sejumlah usaha kompromistis benua Eropa yang mengapresiasi ilmu pengetahuan dengan baik. Klaim barat atas keorisinilitas mata rantai ilmu pengetahuan mereka tidak bisa disepakati begitu saja, karena memang ada hasil dialektika antara peradaban eropa klasik dengan asia kuno ataupun afrika kuno. Namun yang bisa dinilai sekarang adalah capaian nyata yang terlihat sangat maju di barat, dan timur tertinggal jauh di belakang. Barat semenjak era renaissance sadar akan kekurangannya dan terus berupaya menuju arah yang progresif, dengan tujuan memperoleh kejayaan. Islam, yang notabene memperoleh kejayaan pada dinasti Abbasiyah, hingga disebut sebagai the Golden Age of Islam, justru menunjukkan penurunan yang drastic dalam hal kekayaan peradaban, budaya, intelektual, terlebih pemerintahan dan politik. Hal ini memberi peluang besar bagi barat untuk meniru keberhasilan Islam, tentunya dengan mengevaluasi kekurangannya.

Problematika politik yang suram dituding sebagai biang kemunduran Islam dari masa kejayaan. Buruknya administrasi pemerintahan, iklim politik yang saling menjatuhkan, mengutamakan kepentingan kelompok sendiri, dan pelbagai problematika politik antar penguasa lokal dengan penguasa pusat adalah penyakit yang akut bagi pemerintahan Islam. Tak pelak, serangan dari luar yang seharusnya tidak memberi dampak bagi pemerintahan Islam, menjadi sangat efektif karena tidak adanya semangat kesatuan dalam sistem pemerintahan yang ada. Mongol leluasa menduduki sebagian daerah kekuasaan Islam, bahkan beberapa gubernur mengambil untung dengan pendudukan penjajah atas pemerintahan Islam.

Pengaruh Filsafat Islam terhadap Renaissance Eropa terjadi melalui kontak dan persaudaraan (Fraternisasi) dengan filsafat Kristen. Terdapat dua saluran utama pengaruh filsafat Islam kepada filsafat Barat yaitu :

  1. Kontak Pribadi

Orang-orang Kristen di Timur mengadakan kontak dengan orang-orang yang Islam setelah penaklukan daerah Persia, Syria dan Mesir. Mereka hidup bersamaan mengikuti kegiatan intelektual dan kebudayaan kaum muslim. Dari sinilah awal mula perkembangan filsafat Islam di peradaban Barat. Orang pertama yang mengenalkannya adalah Adelard dari Bath (1126) yang mengenalkan buku-buku Abu Mansyur (886 M) ke Eropa Latin.

Kontak langsung antara peradaban Islam dan Barat terjadi di Spanyol dan Sisilia. Andalusia banyak dikunjungi para pelajar dari Eropa. Dan setelah menyelesaikan studinya mereka kembali ke Eropa.

  1. Penerjemahan

Gerakan penerjemahan baru bermula pada abad XII M. Toledo dan Palermo adalah dua kota pusat penerjemahan buku-buku Arab-Islam. Banyak buku yang karangan para filosof Islam seperti al-Kindi, Ibn Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd dan banyak lainnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa/Latin.

Terdapat 2 pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini.  Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354 – 430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480 – 524 M) dan John  Scotus.  Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.  Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti IsagogeCategories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.  Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropah,, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris,  tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.[1]

Al-Kindi, Sang Fenomena Awal

Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates (469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM).  Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM).  Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M.  Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles.  Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.

Sejarawan  menempatkan Al-Kindi sebagai filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat.  Ibnu Al-Nadim mendudukkan Al-Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam (natural philosophy).  Buku-buku Al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat.  Ibnu Abi Usai’bia menganggap Al-Kindi sebagai penterjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari Bahasa Yunani ke dalam Bahasa Arab.  Disamping sebagai penterjemah, Al-Kindi menulis juga berbagai makalah.  Ibnu Al-Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al-Kindi dan sebagian diantaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana.  Nama Al-Kindi sangat masyhur di Eropah pada abad pertengahan.  Bukunya yang telah disalin kedalam bahasa Latin di Eropah berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron dan Ptolemeus.  Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalah filosof kenamaan Roger Bacon.

Beberapa kalangan beranggapan bahwa Al-Kindi bukanlah seorang filosof sejati.  Dr. Ibrahim Madzkour,  seorang sarjana filsafat lulusan Prancis yang berasal dari Mesir, beranggapan bahwa Al-Kindi lebih tepat dikategorikan sebagai seorang ilmuwan (terutama ilmu kedokteran, farmasi dan astronomi) daripada seorang filosof.  Hanya saja karena Al-Kindi yang pertama kali menyalin kitab Plato dan Aristoteles ke dalam Bahasa Arab, maka ia dianggap sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan filsafat pada Dunia Islam dan kaum Muslimin.[2]

Meskipun pada beberapa hal Al-Kindi sependapat dengan Aristoteles dan Plato, namun dalam hal-hal tertentu Al-Kindi memiliki pandangan tersendiri.  Al-Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles yang menyatakan bahwa  waktu dan benda adalah kekal.  Dan untuk membuktikan hal tersebut Al-Kindi telah menggunakan pendekatan matematika.  Al-Kindi tidak sepaham pula dengan Plato dan Aristoteles yang menyatakan bahwa bentuk merupakan sebab dari wujud, serta pendapat  Plato yang menyatakan bahwa cita bersifat membiakkan.  Menurut Al-Kindi alam semesta ini merupakan sari dari sesuatu yang wujud (ada).  Semesta alam ini merupakan kesatuan dari sesuatu yang berbilang, ia juga bukan merupakan sebab wujud.

Sepeninggal Al-Kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat.  Filosof-filosof itu diantaranya adalah : Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, hingga filosof-filosof zaman kontemporer yang senantiasa bergumul dengan filsafat.

Al-Farabi, Guru Kedua

Al-Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam.  Berbagai karangan Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First danSecond Analysis telah diterjemahkan Al-Farabi kedalam Bahasa Arab.  Al-Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif.  Disamping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras.  Oleh karena jasanya ini, maka Al-Farabi diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar guru pertama diberikan kepada Aristoteles.

Kontribusi lain dari Al-Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklassifikasi ilmu pengetahuan.  Al-Farabi telah memberikan definisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya.  Al-Farabi mengklassifikasi ilmu kedalam tujuh cabang yaitu : logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqhi (hukum).

Ilmu percakapan dibagi lagi kedalam tujuh bagian yaitu : bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis dan membaca.  Bahasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam : ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar dan aturan mengenai syair yang baik.  Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan syair (puisi).

Matematika dibagi dalam tujuh bagian yaitu : aritmetika, geometri, astronomi, musik, hizab baqi (arte ponderum) dan mekanika.

Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu.

Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika.  Perkataanpolitieia yang berasal dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab menjadi madani,yang berarti sipil dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota.  Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani.

Ilmu agama dibagi dalam ilmu fiqh dan imu ketuhanan/kalam (teologi).[3]

Buku Al-Farabi mengenai pembagian ilmu ini  telah diterjemahkan kedalam Bahasa Latin untuk konsumsi Bangsa Eropah dengan judul De Divisione Philosophae.  Karya lainnya yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum.  Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik dan geologi.[4]

Avicenna, Dokter yang Ahli Filsafat

Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna.  Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair.  Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair.  Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo.  Buku ini kemudian menjadi buku pegangan (text book) dalam Ilmu Kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropah, seperti Universitas Louvain dan Montpelier.  Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat.  Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian.  Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.

Kitab lainnya berjudul Al-Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth-Ben Daud) di Toledo.  Oleh karena Al-Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika dan  De Anima.[5]

Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoritis dan bagian yang bersifat praktis.  Bagian yang bersifat teoritis meliputi :  matematika, fisika dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi :  politik dan etika.

Dalam hal logika Ibnu Sina memiliki pandangan serupa dengan para filosof Islam lainnyanya seperti Al-Farabi, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, yang beranggapan bahwa logika adalah alat filsafat, sebagaimana di tuliskan dalam syairnya :

Perlulah manusia mempunyai alat

Pelindung akal dari yang palsu

Imu logika namanya alat

Alat pencapai semua ilmu[6]

Ibnu Rusyd, Sang Filosof Fenomenal Panutan Barat

Berbeda dengan  filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibnu Rusyd dilahirkan di Barat (Spanyol).  Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Baja (Avempace) dan Ibnu Tufail (Abubacer).

Ibnu Rusyd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang dokter dan telah mengarang Buku Ilmu Kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canonkarangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.

“Suatuhari, Ibnu Thufayl memanggilku dan berkata: ‘Hari ini aku mendengar Amirul Mu’minin (Abu Ya‘qub Yusuf, penguasa Kordoba waktu itu) mengeluh tentang sukarnya memahami Aristoteles maupun penerjemah-penerjemahnya. Ia berharap semoga ada seseorang yang mau menerangkan maksud buku-buku itu agar mudah dipahami oleh masyarakatluas. Nah, kulihat engkau punya kemampuan untuk melakukannya, maka kerjakanlah. Dengan ketinggian akalmu, ketajaman nurani dan ketekunanmu dalam mencari ilmu, aku yakin engkau dapat melaksanakan itu semua. ’Maka semenjak itu mulailah aku berkonsentrasi, dengan saran dan dorongan IbnuThufayl, menulis komentar atas karya-karya Aristoteles”.[7]

Ibnu Rusyd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles, yaitu : komentar besar, komentar menengah dan komentar kecil.  Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa : Arab, Latin dan Yahudi.  Dalam komentar besar, Ibnu Rusyd menuliskan setiap kata dalamStagirite karya Aristoteles dengan Bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir.  Dalam komentar menengah ia  masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rusyd.

Di masa mudanya, beliau mempelajari teologi Islam, hukum Islam, ilmu kedokteran, metematika, astronomi, sastra dan utamanya adalah falsafah. Beliau lahir di Cordova—sekarang lebih populer dengan Kordoba—, Spanyol pada tahun 1126 M. di kalangan keluarga ahli hukum. Kakek dan orang tuanya mempunyai kedudukan Hakim Agung (mungkin kalau di Indonesia semacam Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung). Dan pada tahun 1169 M. beliau diangkat menjadi hakim agung di Seville (sekarang Sevilla) dan pada 1182 hakim di Kordoba.[8]

Melihat keahliannya sebagai dokter, filosof dam ahli hukum, tidak heran kalau Ibnu Rusyd mendapakan kedudukan dan penghargaan tinggi dari khalifah al-Muwahhid Abu Ya’qub Yusuf dan khalifah Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur. Tetapi antara Ibnu Rusyd dan ahli hukum islam terdapat permusuhan dan atas tuduhan bahwa beliau menganut paham-paham falsafah yang bertentanngan dengan ajaran Islam, beliau akhirnya ditangkap dan diberi hukum tahanan kota di Lucena yang dekat dengan Kordoba kemudian ia dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana pada tahun 1198 M.[9]

Pandangan Ibnu Rusyd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan  pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rusyd sebagai atheis.  Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rusyd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah al-Ula (First Philosophy).  Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.

Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rusyd dan kaum ulama yang diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafutul Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman Renaisance.  Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis.  Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme).  Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd dalam karyanya Tahafutut Tahafut.

Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rusyd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam.  Hoesin menyatakan  bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rusyd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[10]  Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat.[11]

Bersamaannya dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropah mengalami kebangkitan.  Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin.  Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropah.  Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun  1130 – 1150 M.  Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia.  Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW.  Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.

Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rusyd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rusyd.

Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam mulai berkembang lagi.  Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin.  Pada tahun 1217 Frederick II mengutus Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslimin.  Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rusyd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot.  Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar Ibnu Rusyd  dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab Anima.[12]

Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterjemahkan karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Eropah Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh  Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab

Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya.  Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256.  Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rusyd.  Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rusyd telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab Tahafutut Tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.

Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu Rusyd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rusyd (Averroisme) dan paham yang menentangnya.  Kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rusyd ini antara lain pendeta Ernest Renan dan Roger Bacon.  Mereka yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan argumentasi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafutul Falasifah.  Dari hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropah Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam.[13]

Thomas Aquinas (1225-1274 M.) yang menyatakan bahwa akal dan wahyu itu tidak bertentangan, bahkan sejalan. Ini jelas sama dengan pendapat Ibnu Rusyd. Bahkan tidak hanya dalam hal wahyu dan akal, tetapi juga dalam hal lain seperti masalah esensi, penciptaan alam dari ex-nihilo dan gerak alam. Dengan pembelaan itu pula Thomas Aquinas dituduh sebagai orang yang ketularan cara berpikir Ibnu Rusyd, meskipun pada kenyataannya memang demikian adanya.[14]

Kalau mau menyebutkan satu orang lagi yang benar-benar ketularan Ibnu Rusyd adalah Moses Maimonedes (Musa bin Maimun, 1135-1204 M.), seorang filsuf Yahudi tulen yang banyak memasukkan ide-ide Ibnu Rusyd ke dalam buku yang dikarangnya, al-Hairin. Bahkan Moses Maimonedes sendiri mengadakan dialog langsung dengan Ibnu Rusyd tentang inklusifitas dan toleransi yang akan mereka bangun dalam upaya membangun dunia, baik barat maupun timur. Di sinilah peran penting Ibnu Rusyd dalam hubungan antar-agama.[15]

Penutup

Uraian diatas menunjukkan kepada kita betapa besar sumbangan peradaban Islam terhadap pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, yang kita kenal sekarang. Meskipun sampai saat ini masih terdapat kecenderungan untuk menafikan pengaruh peradaban Islam terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.

Semangat mencari kebenaran yang dirintis oleh pemikir Yunani dan hampir padam oleh karena jatuhnya Imperium Romawi, hidup kembali dalam kebudayaan Islam. Will Durant menyatakan bahwa jika orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah, maka kaum muslimin adalah Bapak Angkat Metode Ilmiah. Metode Ilmiah diperkenalkan ke dunia barat oleh Roger Bacon (1214 – 1294) dan selanjutnya dimantapkan sebagai paradigma ilmiah oleh Francis Bacon (1561 – 1626).[16]

Semangat para filosof dan ilmuwan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tidak lepas dari semangat ajaran Islam, yang menganjurkan para pemeluknya belajar segala hal, sampai ke Negeri Cina sekalipun, sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Ali bin Abi Thalib pernah berujar, “ambillah hikmah itu walaupun dari mulut babi” mengindikasikan bahwa asal-usul ilmu pengetahuan (hikmah) tidak menjadi masalah ataupun penghalang bagi orang yang mencari hikmah.

Semangat belajar tak pernah lepas dari barat yang terus menerus mengevaluasi kekayaan ilmiahnya. Islam yang pernah Berjaya melebihi peradaban apapun seharusnya dapat meningkatkan kapasitas keilmuan di kancah Internasional, sehingga klaim-klaim bahwa barat membutuhkan timur (baca: Islam) dalam kemajuan intelektual mereka. Tanpa Islam, sulit rasanya membayangkan barat masih merangkak dalam kungkungan masa kegelapan mereka, tanpa adanya pedoman dari Islam.

Proses dialektis kelimuan antar-peradaban inilah yang menjadikan proses kemajuan peradaban manusia terus menuju arah yang lebih baik. Klaim bahwa disiplin ilmu tertentu berasal dari timur, dan beberapa disiplin ilmu lain berasal dari barat hendaknya dipahami dalam konteks kekinian, sebagai pelecut semangat bagi generasi sekarang untuk terus berusaha menuju kejayaan keilmuan demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia.

 

 

Daftar Pustaka

Bammate, Haidar, Kontribusi Intelektual Muslim Terhadap Peradaban Dunia. Jakarta: Darul Falah, 2002.

Durant, Will, The Story of Philosophy, New York: Simon and Schuster, 1993.

Hoesin, O.A., Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1961.

Mustofa, Ahmad, Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Praja, J.S., Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam, Jakarta: Penerbit Teraju, 2002.

Sarton, George,  Introduction to the History of Science, Melbourne: Krieger Publishing Co, 1998.

Suriasumantri, J.S.,  Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2002.

Tim Penyusun Depag, Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Aliyah Keagamaan kelas 2, Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Depag, 2002.

Turner, Howard R, Sains Islam yang Mengagumkan: Sebuah Catatan terhadap Abad Pertengahan. Bandung: Nuansa, 2004.

Zaimeche, Salah, An Introduction to Muslim Science, United Kingdom: Foundation for Science Technology and Civilization, 2002.


[1] Hoesin, Filsafat Islam … hal. 21.

[2] Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim … hal. 76.

[3] J. S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu … hal. 90-93.

[4] Will Durant, The Story of Philosophy … hal. 122.

[5] Will Durant, The Story of Philosophy … hal. 177.

[6] Hoesin, Filsafat Islam … hal. 144.

[7] Hoesin, Filsafat Islam … hal. 148

[8]  Tim Penyusun Depag, Sejarah Kebudayaan Islam  …  hlm. 114-115.

[9] Salah Zaimeche, An Introduction to … hal. 122-123.

[10] Hoesin, Filsafat Islam … hal. 157.

[11] J.S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu … hal. 98.

[12] George Sarton,  Introduction to … hal. 88-90. Lihat juga Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim … hal. 100-115.

[13] Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim … hal. 125-126.

[14] Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim … hal. 128.

[15] Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim … hal. 129-133.

[16] Will Durant, The Story of Philosophy … hal. 190.

Februari 24, 2012 - Posted by | makalah | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: